Jumat, 16 November 2012

Damar Kurung, Upaya Memuliakan Warisan Leluhur Gresik



Damar Kurung, Upaya Memuliakan Warisan Leluhur Gresik. Gresik sebagai kota pesisir mempunyai akar budaya yang cukup kaya dan berwarna. Berbagai kebudayaan itu muncul karena mudahnya akulturasi antara pendatang dengan penduduk lokal. Salah satu budaya yang masih diuri-uri dan tetap menjadi ikon salah satu kota gresik adalah Damar Kurung.
Damar Kurung juga merupakan ikon kota yang tertua di Kota Gresik seperti yang tertulis pada buku Mocopat karena Damar kurung telah ada sejak zaman Pemerintahan Sunan Giri, Kolonial Belanda dan Jepang, hingga sekarang. Damar Kurung sendiri merupakan karya seni unik. Dalam pandangan seni rupa, lukisan-lukisan nenek ini sedemikian unik.
Ada yang menyebut bergaya naif, kekanakkanakan, dan dia melukis seperti meluncur begitu saja. Maka seorang perupa asal Gresik, Imang AW tertarik untuk mengangkatnya dalam khasanah lukisan pada umumnya. Masmundari diminta melukis dengan bahan dan alat melukis yang lebih bagus, melukis di atas selembar kertas, kemudian dibingkai sebagaimana lukisan pada umumnya.
Maka jadilah lukisan gaya Masmundari yang menarik banyak kalangan dalam pameran di Jakarta dan hotel-hotel besar serta mendapat perhatian dari petinggi negeri termasuk Presiden RI Soeharto. Akan tetapi, dalam kenyataannya Damar Kurung terancam punah.
Setelah Mbah masmundari wafat, tradisi seni lukis Damarkurung kini dilanjutkan oleh Rukayah (60), anak tunggalnya. Rukayah bersama anaknya kini yang meneruskan membuat damar kurung. Menurut Rukayah Damarkurung merupakan kesenian lukisan tangan asli dari daerah pesisir. “Damar kurung merupakan warisan dari leluhur. Itu yang diajarkan Mbah Masmundari pada setiap keluarga disini,” katanya mengisahkan sambil jemarinya terus membuat damar kurung.
Dia berkisah dulunya dia juga diajarkan untuk membuat Damarkurung. “Walaupun saya anak tunggal dari Ibu Masmundari, namun malah
saya belara banyak sejak umur 15 tahun dari bibi saya bernama Masriyatun,” ujarnya. Hal senada disampaikan Nur Samadji, salah satu cucu Mbah Masmundari juga menggeluti dunia lukis Damarkurung.
“Kami disuruh oleh Mbah Masmundari untuk meperkenalkan dan ajarkan ke anak cucu kami karena ini adalah warisan dari leluhur,” katanya. Nur Samadji yang beristrikan Juminingsih setiap harinya b rjibaku menghidupkan Damarkurung. “Selain menerima pesanan, juga membuat Damarkurung untuk oleh-oleh dengan berbentuk kecil mungil seperti ini,” katanya sambil memperlihatkan damarkurung
berukuran 10 cm.
Menurut pengakuannya, keluarga besarnya biasanya juga membuat damar kurung pesanan. “Mulai dari pesanan Jepang pernah kami membuatkan, Kalimantan serta kota Gresik. Kami cuma meneruskan usaha damar kurung, kalau kami mebikin tergantung pesanan tapi juga buat stok,” ujarnya, sebagaimana dilansir oleh koran Radar Gresik.
Damar Kurung Warisan Giri Prapen
Damar kurung tak hanya dikenal di pesisir Gresik. Damar kurung bisa dijumpai di wilayah Semarang yang memang dikenal sebagai tempat persinggahan kapal-kapal dari negeri China zaman dulu. Damar kurung yang biasa disebut ting-tingan Ramadhan ini biasa dijajakan

dalam dhugdheran (pasar malam yang hanya ada sepanjang bulan Puasa) masih terselip penjual damar kurung. Biasanya berwarna merah atau putih dengan lukisan sederhana, dari luar bayangan kerbau, naga, petani, gerobak, penari, burung, becak, bahkan pesawat, tampak bergerak.
Damar kurung mengadaptasi lampion yang dipakai warga Tionghoa sebagai wujud kesempurnaan dan keberuntungan. Dulu jika ada warga yang kesripaan (ada yang kesusahan karena di antara anggota keluarga ada yang meninggal dunia) maka lampion putih dipasang berpasangan di depan rumah yang melambangkan duka cita. Biasanya lampion persegi atau oval berwarna putih ini dibubuhi kaligrafi berisi penggalan syair China kuno. Sebaliknya, lampion bulat berwarna merah menjadi symbol keberuntungan dan kesempurnaan.
Membuat damar kurung tidak mudah, terutama menyetel agar posisi sumbu yang mengeluarkan asap bisa tetap stabil. Asap yang keluar dan tertiup angin inilah yang memutar kipas kertas  dan membuat kertas-kertas minyak itu berputar. Sebagaimana lampion, damar kurung dalam upacara Ngaben di Bali pun memiliki makna. Damar kurung dipasang di depan rumah duka, yang diyakni sebagai penunjuk arah bagi perjalanan roh. Hubungan sejarah masa lalu antara Cina dan Bali memang mengingatkan bahwa damar kurung ‘berkarib’ atau varian dari lampion. Bukan hanya damar kurung, ditengarai barong yang dikenal di Bali juga beralian erat dengan tari singa barong Cina. Penyebaran singa barong Cina ini kemungkinan besar masuk ke Bali pada masa pemerintahan Dinasti Tang di Cina sekitar abad ke-7 hingga abad ke-10.
Di Gresik, lampion yang di terjemahkan menjadi damar kurung sudah lekat denan tradisi sejak abad ke-16. saat itu, adalah masa aktif Sunan Prapen, sunan ketiga sesudah Sunan Giri, seorang penyebar agama Islam di Jawa Timur. Sampai tahun 1970-an, sebagai kerajinan, damar kurung juga dikerjakan masyarakat Jawa Tengah maupun Jawa Barat. Kebanyakan dammar kurung ini dibuat tanpa gambar, hanya beberapa bagian damar kurung saja yang memiliki gambar.
Di Jepara ada tradisi menyalakan damar kurung yang dinamakan Baratan. Tradisi ini dilaksanakan setiap pertengahan bulan Sya’ban (Jawa: bulan Ruwah). Hal ini berkait dengan legenda Sultan Hadlirin, suami Ratu Kalinyamat (Retno Kencono), putri Sultan Trenggono yang juga Adipati Jepara (1549-1579). Suatu ketika tibalah sang penguasa di Desa Purwogondo (kini pusat Kecamatan Kalinyamatan). Tiba-tiba kuda yang ditungganginya lari menghilang. Kemudian bersama-sama warga, ia mencari kuda dengan bantuan lampu impes (lampion). Tradisi ini tetap dilakukan dengan membawa lampion berkelap-kelip. Ketika listrik sudah masuk desa, tradisi ini pelahan memudar. (editor:gresik.co)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar